BELAJAR Akhlak Dan Adab
Apa yang di maksud dengan Adab.
Adab yaitu:
Adab merupakan prinsip dasar khas Islam yang berisi tentang nilai dan kaidah hukum yang membantu kehidupan manusia. Adab yang mengandung falsafah kehidupan yang bersifat dalam , yang menjelaskan kehidupan masa lampau, sekarang, dan yang akan datang.
Akhlak dalam bahasa Arab berasal dari kata khuluk yang berarti tingkah laku, perangai atau tabiat Secara terminologi, akhlak adalah tingkah ...
Bismillahirrahmaanirrahim
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di
dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan
adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak
yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain.
Berikut
diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu
syar’i,
Pertama, Mengikhlaskan niat dalam
menuntut ilmu
Dalam
menuntut ilmu kita harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan seseorang
tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah. “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan
supaya mereka mendirikan shalat dan memurnikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah:5)
Orang yang
menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama
kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa
yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah
dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan
duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari
kiamat.” (HR. Ahmad)
Kedua, Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang
bermanfaat
Hendaknya
setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan
memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh
kepadaNya.
Rasulallah shallallahu
‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu
yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung
kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat, karena banyak kaum Muslimin yang
justru mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat, seperti mempelajari ilmu
filsafat, ilmu kalam ilmu hukum sekuler, dan lainnya.
Ketiga, Bersungguh-sungguh dalam
belajar dan selalu merasa haus ilmu
Dalam
menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu
bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat
dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak
pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah
kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah
kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)
Keempat, Menjauhkan diri dari dosa
dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala
Seseorang
terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan
maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat,
bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala.
Kelima, Tidak boleh sombong dan
tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
Sombong dan
malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu
masih ada dalam dirinya.
Imam Mujahid
mengatakan,
لاَ
يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ
“Dua orang
yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari
secara muallaq)
Keenam, Mendengarkan baik-baik
pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru
Allah Ta’ala berfirman,
“…
sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya.
Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah
orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)
Ketujuh, Diam ketika pelajaran
disampaikan
Ketika
belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat,
tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang
disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “dan
apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat
rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)
Kedelapan, Berusaha memahami ilmu
syar’i yang disampaikan
Kiat memahami
pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadaapan guru,
memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalama.
Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak
banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, tidak membaca satu kitab kepada
banyak guru pada waktu yang sama, mengulang pelajaran setelah kajian selesai
dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Kesembilan, Menghafalkan ilmu syar’i
yang disampaikan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Semoga
Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian
ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa
fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR.
At-Tirmidzi).
Dalam hadits
tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa
kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada
wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda
beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal
pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Kesepuluh, Mengikat ilmu atau
pelajaran dengan tulisan
Ketika
belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, poin-poin penting, fawaa-id (faedah
dan manfaat) dari ayat, hadits dan perkataan para sahabat serta ulama, atau
berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawa kan oleh syaikh atau
gurunya. Agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam
ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR.
Ibnu ‘Abdil Barr)
Kesebelas, Mengamalkan ilmu syar’i
yang telah dipelajari
Menuntut ilmu
syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang
agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa
kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian,
barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia
diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang
mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak
mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun
membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)
Kedua belas, Berusaha mendakwahkan
ilmu
Objek dakwah
yang paling utama adalah keluarga dan kerabat kita, Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai
orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia
perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.
At-Tahriim: 6).
Hal yang
harus diperhatikan oleh penuntut ilmu, apabila dakwah mengajak manusia ke jalan
Allah merupakan kedudukan yang mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu
tidak akan terlaksana kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu, seorang dapat berdakwah
dan kepada ilmu ia berdakwah. Bahkan demi sempurnannya dakwah, ilmu itu harus
dicapai sampai batas usaha yang maksimal. Syarat dakwah:
1. Aqidah yang benar, seorang yang berdakwah harus meyakini
kebenaran ‘aqidah Salaf tentang Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma’ dan Shifat,
serta semua yang berkaitan dengan masalah ‘aqidah dan iman.
2. Manhajnya benar, memahami Al-quran dan As-sunnah sesuai
dengan pemahaman Salafush Shalih.
3. Beramal dengan benar, semata-mata ikhlas karena Allah dan
ittiba’ (mengikuti) contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
tidak mengadakan bid’ah, baik dalam i’tiqad (keyakinan), perbuatan, atau
perkataan.
***
Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/7216-adab-menuntut-ilmu.html
https://www.youtube.com/watch?v=Y89f7ctze4w
Makna AdabYaitu :
Adab secara bahasa artinya menerapakan akhlak mulia. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan:
وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَمنَّهُ الْأَخْذُ المأم
“Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia ”(Fathul Bari, 10/400).
Dalil wajibnya menerapkan adab dalam menuntut ilmu
Dalil-dalil dalam bab ini ada mencakup:
1. Dalil-dalil tentang perintah untuk berakhlak mulia
Diantaranya:
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا
“Kaum Mu'minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata: “hasan shahih”).
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
إنَّما بعثتُ لأتمِّمَ مَكارِمَ الأخلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk meningkatkan akhlak mulia” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 45).
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
ثنَّ أثقَلَ ما وُضِع في ميزانِ المؤمِنِ يومَ القيامةِ خُلُقٌ حسَنٌ وإنَّ اللهَ يُبغِضُ الفاحشَ البذيءَ
“Sesungguhnya perkara yang lebih berat di timbangan amal bagi seorang Mu'min adalah akhlak yang baik. Dan Allah tidak tertarik pada orang yang berbicara keji dan kotor ”(HR. At Tirmidzi no. 2002, ia berkata:“ hasan shahih ”).
2. Dalil-dalil tentang perintah untuk memuliakan ilmu dan ulama
Diantaranya:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ
“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik dari sisi Tuhannya” (QS. Al Hajj: 30).
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sebenarnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj: 32).
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا ًوَإِثْما
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sebenarnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS. Al Ahzab: 58).
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
إنَّ اللهَ قال: من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ
“Sesungguhnya Allah berfirman: barangsiapa yang kelompok wali-Ku, ia telah menyatakan perang terhadap-Ku” (HR. Bukhari no. 6502).
Imam Asy Syafi'i rahimahullah mengatakan:
إن لم يكن الفقهاء العاملون أولياء الله فليس لله ولي
“Jika para fuqaha (ulama) yang mengamalkan ilmu mereka tidak disebut wali Allah, maka Allah tidak punya wali” (diriwayatkan Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi'i, dinukil dari Al Mu'lim hal.21).
Urgensi adab penuntut ilmu
1. Adab dalam menuntut ilmu adalah karena yang menolong mendapatkan ilmu
Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan:
علم بلا أدب كنار بلا حطب ، و أدب بلا علم كروح بلا جسد
“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” (Adabul Imla 'wal Istimla' [2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [10]).
Yusuf bin Al Husain rahimahullah mengatakan:
بالأدب تفهم العلم
“Dengan adab, engkau akan memahami ilmu” (Iqtidhaul Ilmi Al 'Amal [31], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).
Sehingga belajar ada sangat penting bagi orang yang mau menuntut ilmu syar'i. Oleh karena fakta Imam Malik rahimahullah menyebutkan:
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Belajarlah adab sebelum belajar ilmu” (Hilyatul Auliya [6/330], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17])
2. Adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong berkahnya ilmu
Dengan adab dalam menuntut ilmu, maka ilmu menjadi berkah, yaitu ilmu terus bertambah dan mendatangkan manfaat.
Imam Al Ajurri rahimahullah menjelaskan beberapa adab penuntut ilmu beliau mengatakan:
حتى يتعلم ما يزداد به عند الله فهما في دينه
“(Cermatnya amalkan semua adab ini) hingga Allah memahami pemahaman tentang agamanya” (Akhlaqul Ulama [45], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [12]).
3. Adab merupakan ilmu dan amal
Adab dalam menuntut ilmu merupakan bagian dari ilmu, karena bersumber dari dalil-dalil. Dan para ulama juga membuat kitab-kitab dan bab tentang tentang adab menuntut ilmu. Adab dalam menuntut ilmu juga sesuatu yang mesti diamalkan tidak hanya diilmui. Sehingga perkara ini mencakup ilmu dan amal.
Oleh karena itu Al Laits bin Sa'ad rahimahullah mengatakan:
أنتم إلى يسير الأدب احوج منكم إلى كثير من العلم
“Kalian lebih membutuhkan sedikit, dari pada ilmu yang banyak” (Syarafu Ash-habil Hadits [122], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).
4. Adab terhadap ilmu merupakan adab kepada Allah dan Rasul-Nya
Sebagaimana dalil-dalil tentang memuliakan ilmu dan ulama yang telah kami sebutkan.
5. Adab yang baik merupakan tanda diterimanya amalan
Seorang yang beradab ketika menuntut ilmu, bisa jadi ini merupakan tanda amalan ia menuntut ilmu yang diterima oleh Allah dan mendapatkan keberkahan. Sebagian salaf mengatakan:
الأدب في العمل علامة قبول العمل
“Adab dalam amalan merupakan tanda diterimanya amalan” (Nudhratun Na'im fi Makarimi Akhlaqir Rasul Al Karim, 2/169).
60 adab penuntut ilmu syar'i
Berikut ini 60 adab-adab bagi penuntut ilmu syar'i yang kami sarikan dari kitab Al Mu'lim fi Adabil Mu'allim wal Muta'allim karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdil Lathif Alu Asy Syaikh rahimahullah.
1. Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Semata-mata hanya mengharap wajah Allah Ta'ala, bukan tujuan duniawi. Seorang yang menuntut ilmu dengan tujuan duniawi diancam dengan adzab neraka Jahannam.
2. Hendaknya memiliki percaya diri yang kuat.
3. Senantiasa menjaga syiar-syiar Islam dan hukum-hukum Islam yang zahir. Seperti shalat berjamaah di masjid, menebarkan salam kepada yang dikenal maupun tidak dikenal, amar ma'ruf nahi mungkar, dan bersabar ketika mengalami gangguan dalam dakwah
4. Berakhlak dengan akhlak yang mulia yang disukai dalam syariat nash-nash. Yaitu tepat waktu penuntut ilmu itu: zuhud terhadap dunia, dermawan, berwajah cerah (tidak masam), bisa menahan marah, bisa menahan gangguan dari masyarakat, sabar, menjaga muru'ah, menjauhkan diri dari tahap yang rendahan, senantiasa wara, khusyuk, tenang, berwibawa, tawadhu ', sering memberikan makanan, iitsar (mendahulukan orang lain dalam perkara dunia) namun tidak minta didahulukan, secara adil, banyak bersyukur, mudah membantu hajat orang lain, mudah memanfaatkannya dalam, lemah lembut terhadap orang miskin, akrab dengan tetangga
5. Senantiasa menunjukkan pengaruh rasa takut kepada Allah dalam gerak-geriknya, pakaiannya dan seluruh cara hidupnya
6. Senantiasa merutinkan adab-adab Islam dalam perkataan dan perbuatan, baik yang nampak maupun tersembunyi. Seperti tilawah Al Qur'an, berdzikir, doa pagi dan petang, ibadah-ibadah sunnah, dan senantiasa memperbanyak shalawat
7. Membersihkan dirinya dari akhlak-akhlak tercela, seperti: hasad (dengki), riya, ujub (kagum pada diri sendiri), meremehkan orang lain, dendam dan benci, marah bukan karena Allah, kesalahan curang, sum'ah (ingin didengar ), pelit, bicaranya kotor, sombong enggan menerima kebenaran, tamak, angkuh, merasa tinggi, berlomba-lomba dalam perkara duniawi, mudahanah (diam dan ridha terhadap kemungkaran demi maslahat dunia), menampakkan diri seolah-olah baik di hadapan orang-orang, cinta pujian, buta terhadap aib diri, sibuk mengurusi aib orang lain, fanatik golongan, takut dan harap selain kepada Allah, ghibah, namimah (adu domba), memfitnah orang, berdusta, mengatakan jorok.
8. Menjauhkan diri dari segala hal yang rawan mendatangkan tuduhan serta tidak melakukan hal-hal yang menjatuhkan muru'ah.
9. Zuhud terhadap dunia dan menganggap dunia itu kecil, tidak terlalu bersedih dengan yang luput dari dunia, sederhana dalam makanannya, pakaiannya, perabotannya, rumah sakit.
10.
Menjaga jarak dengan para penguasa dan hamba-hamba dunia, dalam rangka kemuliaan ilmu. Seperti dilakukan para salaf terdahulu. Jika memang ada kebutuhan untuk itu maka itu, ketika ada maslahat yang besar dengan niat yang lurus.
11.
Sangat-sangat menjauhkan diri dari perkara-perkara bid'ah, walaupun sudah menjadi kebiasaan orang-orang.
12.
Perhatian dan fokus utamanya adalah mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk akhiratnya. Menjauhkan diri dari ilmu yang tidak bermanfaat.
13.
Mempelajari apa saja yang bisa merusak, kemudian menjauhinya.
14.
Makan makanan dengan kadar yang sedikit saja, dari makanan yang halal dan jauh dari syubhat. Ini sangat membantu seseorang untuk memahami agama dengan baik.
15.
Banyaknya makan menyebabkan kantuk, lemah akal, tubuh loyo, dan malas.
16.
Mempersedikit makan makanan yang bisa menyebabkan akal yang lemah dan memperbanyak makanan yang menguatkan akal seperti susu, mushtoka, kismis dan lainnya.
17.
Mempersedikit waktu tidurnya, selama tidak membahayakan tubuhnya. Hendaknya tidur sehari tidak lebih dari 8 jam. Tidak mengapa penuntut ilmu merelaksasikan jiwa, hati, pikiran dan pandangannya merasa lelah (dalam aktifitas belajar) atau lemah untuk melanjutkan. Dengan melakukan refreshing dan rekreasi sehingga ia bisa kembali fit dalam menjalankan aktifitasnya lagi. Namun tidak boleh mencampakkan-buang waktunya untuk itu (liburan).
18.
Senantiasa bersungguh-sungguh untuk menyibukkan diri dengan ilmu, baik dengan membaca, menelaah, menghafal, belajar pelajaran dan aktifitas lainnya
19.
Aktifitas-aktifitas yang lain dan juga sakit yang ringan, ketikanya tidak membuat seorang penuntut ilmu pengetahuan bolos wawancara atau lalai dari membaca dan belajar pelajaran.
20.
Bersungguh-sungguh untuk bersuci dari hadats dan najis saat wawancara, badan dan pakaiannya dalam keadaan bersih serta wangi. Menggunakan pakaiannya yang terbaik, dalam rangka untuk mengagungkan ilmu.
21.
Bersungguh-sungguh untuk menjauhkan diri dari sikap minta-minta kepada orang lain walaupun dalam kondisi sulit
22.
Mempersiapkan diri, mempelajari dan merenungkan hal yang ingin disampaikan sebelum diucapkan agar tidak terjatuh dalam kesalahan. Terlebih jika ada orang yang telah memberitahukan atau orang yang memusuhinya yang akan menjadikan ketergelincirannya sebagai senjata.
23.
Tidak berlaku sombong dengan mengambil ilmu dan faidah dari orang yang lebih rendah dari rendahnya atau lebih muda usianya atau lebih rendah nasabnya atau kurang populer atau lebih rendah dari kita
24.
Tidak malu bertanya tentang masalah yang belum diketahui
25.
Taat kepada kebenaran dan kebenaran kebenaran ketika keliru, walaupun yang mengoreksi kita adalah penuntut ilmu pemula
26.
Meninggalkan debat kusir dan adu argumen
27.
Membersihkan kotoran dari kotoran-kotoran hati, agar dia bisa menerima ilmu dengan baik
28.
Manfaatkan waktu-waktu senggang dan waktu-waktu ketika badan fit. Juga memanfaatkan dengan baik waktu muda dan otak masih cemerlang.
29.
Memutuskan dan menghilangkan hal-hal yang menyibukkan sehingga lalai dari menuntut ilmu, atau penghalang-penghalang yang membuat menuntut ilmu tidak maksimal
30.
Senantiasa mengedepankan sikap wara (meninggalkan yang haram, makruh dan syubhat) dalam semua hal. Memilih makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal yang dipastikan halalnya.
31.
mengurangi sikap terlalu banyak bergaul, terutama dengan orang-orang yang banyak main-mainnya dan sedikit seriusnya. Hendaknya ia tidak bergaul kecuali dengan orang-orang yang bisa diberikan manfaat atau bisa mendapatkan manfaat dari mereka.
32.
Bersikap hilm (tenang) dan anah (hati-hati dalam batin) serta senantiasa sabar
33.
Hendaknya senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu dan menjadikan aktifitas menuntut ilmu sebagai setiap waktunya, baik ketika tidak safat ataupun ketika safar
34.
Hendaknya memiliki cita-cita yang tinggi untuk akhirat. Tidak hanya puas dengan sesuatu yang sedikit jika masih mampu menggapai yang lebih. Dan tidak dapat mempertimbangkan-nunda dalam belajar, bersemangat mencari faidah ilmu walaupun sedikit
35.
Tidak berpindah ke kitab yang lain sebelum menyelesaikan dan menguasai kitab yang sedang mempelajari
36.
Tidak belajar pelajaran yang belum dimampui. Belajar dari yang sesuai dengan kadar kemampuannya
37.
Selektif dalam memilih guru. Carilah guru yang mapan ilmunya, terjaga wibawanya, dikenal keistiqamahannya, bagus pertaniannya.
38.
Memandang gurunya dengan penuh pemuliaan dan penghormatan
39.
Memahami hak-hak gurunya, senantiasa ingat akan keutamaan gurunya, dan mengingat tawadhu 'di hadapan gurunya
40.
Senantiasa mencari keridhaan gurunya, merendahkan diri ketika ingin mengkritik gurunya, tidak mendahului gurunya dalam berpendapat, mengkonsultasikan semua masalah dengan gurunya, dan tidak keluar dari arahan-arahannya
41.
Memuji ceramah dan jawaban-jawaban gurunya baik ketika ada gurunya atau ketika sedang tidak ada
42.
Menghormati gurunya dengan penuh pengagungan, senantiasa mengikuti arahannya, baik ketia beliau masih hidup ataupun ketika beliau sudah wafat. Senantiasa mendoakan beliau. Dan membantah orang yang meng-ghibah beliau.
43.
Berterima kasih kepada gurunya atas ilmu dan arahannya
44.
Bersabar dengan sikap keras dari gurunya atau terhadap akhlak buruknya. Dan hal-hal tersebut. Dalam pembelajarannya tidak berpaling dari belajar ilmu dan akidah yang lurus dari gurunya.
45.
Bersegera untuk melaksanakan majlis ilmu sebelum gurunya hadir
46.
Tidak berlaku majlis sang guru di luar majelis ilmu yang diampunya, kecuali atas seizin beliau
47.
Hendaknya menemui gurunya dalam keadaan penampilan yang sempurna, dia tidak sibuk dengan hal-hal lain, jiwanya lapang, pikiran juga jernih. Bukan saat sedang mengantuk, sedang marah, sedang lapar, haus atau semisalnya
48.
Tidak meminta gurunya untuk mengatur kitab di waktu-waktu yang menyulitkan beliau
49.
Tidak belajar kepada guru di waktu-waktu sang guru sedang sibuk, bosan, sedang kantuk, atau semisalnya yang membuat beliau kesulitan memberikan syarah (penjelasan) yang sempurna
50.
Jika turunan majelis ilmu, namun gurunya belum datang, maka tunggulah
51.
Duduk di majelis ilmu dengan penuh ada, penuh tawadhu, dan khusyuk
52.
Duduk di majelis ilmu dalam keadaan tidak bersandar pada tembok atau tiang.
53.
Memfokuskan dirinya untuk memandang gurunya dan mendengarkan perkataan gurunya, menilainya benar-benar sehingga gurunya tidak perlu mengulangnya.
54.
Tidak menengok ke arah lain kecuali darurat, dan tidak menghiraukan suara-suara lain kecuali darurat. Tidak meluruskan kakinya. Tidak menutup mulutnya. Tidak memangku dagunya. Tidak terlalu banyak menguap. Tidak membunyikan dahaknya sebisa mungkin. Tidak banyak bergerak-gerak, carilah berusaha tenang. Jika bersih yang diinginkannya merendahkan suaranya atau menutupnya dengan sapu tangan
55.
Tidak meninggikan suaranya tanpa kebutuhan dan tidak berbicara kecuali darurat. Tidak tertawa-tawa kecuali ketika kagum jika tidak kuat menahan tawa yang inginnya tersenyum saja.
56.
Ketika Berbicara kepada gurunya saatnya menghindarkan diri dari gaya bicara yang biasa digunakan kepada orang secara umum
57.
Jika gurunya terpeleset lisannya, atau gurunya menjelaskan perkara yang agak vulgar, jangan menertawakannya atau mencelanya
58.
Tidak mendahului gurunya dalam menjelaskan suatu masalah atau dalam menjawab pertanyaan
59.
Tidak memotong perkataan gurunya atau mendahuluinya dalam berbicara, dalam pembicaraan apapun
60.
Jika ia mendengar gurunya menjelaskan suatu faidah atau pelajaran yang sudah diketahui, maka dengarkanlah dengan penuh kegembiraan, belum pernah mengetahuinya sebelumnya
61.
Hendaknya tidak bertanya di luar konteks bahasan
Tidak malu untuk bertanya kepada gurunya atau meminta penjelasan tentang hal yang belum ia pahami
Demikian paparan singkat mengenai adab menuntut ilmu. Semoga Allah Ta'ala memberikan kita hidayah untuk mengamalkannya.
Wallahu waliyyut taufiq adalah sadaad.
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/35690-60-adab-dalam-menuntut-ilmu.html
Komentar
Posting Komentar