Pakaian adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala. Allah
jadikan manusia memiliki pakaian-pakaian yang memberikan banyak maslahah untuk
manusia. Allah Ta’ala berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ
لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk
perhiasan” (QS. Al A’raf: 32)
Dan Islam juga menuntunkan beberapa adab dalam
berpakaian untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia dalam berpakaian.
Diantaranya kami jelaskan pada pemaparan singkat berikut ini.
Baca Juga: Makna Hijab, Khimar dan Jilbab
Adab Umum Dalam Berpakaian
1.
Gunakan pakaian yang halal
Hendaknya pakaian yang digunakan halal
bahannya, juga halal cara mendapatkannya serta halal harta yang digunakan untuk
mendapatkan pakaian tersebut. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu,
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا
يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ
الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ
الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى
السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ،
وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu
baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya apa yang Allah
perintahkan kepada orang mukmin itu sama sebagaimana yang diperintahkan kepada
para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang
baik dan kerjakanlah amalan shalih’ (QS. Al Mu’min: 51). Alla Ta’ala berfirman,
‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami
berikan kepadamu’ (QS. Al Baqarah: 172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang
lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut
dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku..
Wahai Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram,
dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR.
Muslim no 1015).
Ibnu Daqiq Al Id rahimahullah menjelaskan:
وفيه الحث على الإنفاق من الحلال، والنهي عن
الإنفاق من غيره، وأن المأكول والمشروب والملبوس ونحوهما ينبغي أن يكون حلالًا
خالصًا لا شبهة فيه
“Dalam hadits ini terdapat motivasi untuk
berinfaq dengan harta yang halal. Dan terdapat larangan untuk berinfaq dengan
harta yang tidak halal. Dan bahwasanya makanan, minuman serta pakaian hendaknya
dari yang halal 100% tidak ada syubhat di dalamnya” (Syarah Al Arba’in
An Nawawiyah, hal. 42).
2.
Tidak menyerupai lawan jenis
Tidak diperbolehkan menyerupai lawan jenis
dalam bertingkah-laku, berkata-kata, dan dalam semua perkara demikian juga
dalam hal berpakaian. Laki-laki tidak boleh menyerupai wanita, demikian juga
sebaliknya. Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, beliau berkata:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ
مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita
yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885).
Dalam riwayat lain dari Abdullah bin
Abbas radhiyallahu’anhu, ia berkata:
لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ
وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam melaknat laki-laki yang kebanci-bancian dan para wanita yang
kelaki-lakian”. Dan Nabi juga bersabda: “keluarkanlah mereka dari rumah-rumah
kalian!” (HR. Bukhari no. 5886).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga
bersabda:
ثلاثةٌ لا يَدخلُونَ الجنةَ: العاقُّ
لِوالِدَيْهِ ، و الدَّيُّوثُ ، ورَجِلَةُ النِّساءِ
“Tidak masuk surga orang yang durhaka terhadap
orang tuanya, ad dayyuts, dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al
Baihaqi dalam Al Kubra 10/226, Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid 861/2,
dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 3063).
Maka hendaknya para lelaki gunakan pakaian
yang dikenal sebagai pakaian lelaki, demikian juga wanita hendaknya gunakan
pakaian yang dikenal sebagai pakaian wanita.
3.
Memulai dari sebelah kanan
Hendaknya memulai memakai pakaian dari sebelah
kanan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ
وَطُهُورِهِ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan
diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam
setiap urusannya” (HR. Bukhari no. 168).
4.
Tidak menyerupai pakaian orang kafir
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu,
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
من تشبه بقوم فهو منهم
“Orang yang menyerupai suatu kaum, seolah ia
bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu
Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut
Tafsir, 1/152).
Disebut menyerupai orang kafir jika suatu
pakaian menjadi ciri khas orang kafir. Adapun pakaian yang sudah menjadi budaya
keumuman orang, tidak menjadi ciri khas orang kafir, maka tidak disebut
menyerupai orang kafir walaupun berasal dari orang kafir.
5.
Bukan merupakan pakaian ketenaran
Hendaknya pakaian yang digunakan bukan pakaian
yang termasuk libas syuhrah. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu,
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا
أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia,
maka Allah akan memberinya pakaian hina pada hari kiamat.” (HR. Abu
Daud no.4029, An An Nasai dalam Sunan Al-Kubra no,9560, dan dihasankan Al
Albani dalam Shahih Al Jami no.2089).
Asy Syaukani menjelaskan:
والحديث يدل على تحريم لبس ثوب الشهرة، وليس هذا
الحديث مختصاً بنفس الثياب، بل قد يحصل ذلك لمن يلبس ثوباً يخالف ملبوس الناس من
الفقراء ليراه الناس فيتعجبوا من لباسه ويعتقدوه. قاله ابن رسلان. وإذا كان اللبس
لقصد الاشتهار في الناس، فلا فرق بين رفيع الثياب ووضيعها، والموافق لملبوس الناس
والمخالف. لأن التحريم يدور مع الاشتهار
“Hadits ini menunjukkan haramnya memakai pakaian
syuhrah. Dan hadits ini tidak melarang suatu jenis pakaian, namun efek yang
terjadi ketika memakai suatu pakaian tertentu yang berbeda dengan keumuman
masyarakat yang miskin, sehingga yang memakai pakai tersebut dikagumi
orang-orang. Ini pendapat Ibnu Ruslan. Dan juga pakaian yang dipakai dengan
niat agar tenar di tengah masyarakat. Maka bukan perkaranya apakah pakaian itu
sangat bagus atau sangat jelek, ataukah sesuai dengan budaya masyarakat ataukah
tidak, karena pengharaman ini selama menimbulkan efek ketenaran” (Dinukil
dari Mukhtashar Jilbab Mar’ah Muslimah, 1/65).
6.
Doa memakai pakaian
Hendaknya ketika memakai pakaian membaca doa
berikut:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا
الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
Alhamdulillahilladzi kasaaniy hadzats tsauba wa rozaqonihi min ghoiri hawlin
minniy wa laa quwwah
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan
pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan
dariku. (HR. Abu Daud no. 4023. Dihasankan Al Albani dalam Shahih Abi
Daud)
Adab-Adab Khusus Bagi Wanita
1.
Menutup aurat wanita
Allah Ta’ala berfirman:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ
وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ
ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu,
anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59).
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ
مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ
“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka
agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31).
Ulama Hambali dan Syafi’i berpendapat dari
ayat di atas bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh. Sedangkan ulama Maliki
dan Hanafi berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah
dan telapak tangan. Berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha,
beliau berkata,
أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ
عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ
رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ
أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui
Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian
yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun
berpaling darinya dan bersabda, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang
wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya
kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak
tangannya. (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata:
“hasan dengan keseluruhan jalannya”).
Sehingga dari sini kita
ketahui bahwa :
* Kaki juga termasuk aurat
* Lengan juga termasuk aurat
* Leher juga termasuk aurat
* Rambut juga termasuk aurat
Maka tidak boleh ditampakkan.
Dan menampakkan aurat dengan sengaja termasuk
tabarruj, sehingga ia merupakan dosa besar. Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu
‘anha:
أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِاللَّهِ
شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا
تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي،
وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik
kepada Allah, tidak mencuri, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah
(tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita Jahiliyah
terdahulu” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh Al Albani dalam Jilbab
Mar’ah Muslimah hal. 121).
Syaikh Sa’id bin Ali al Qahthani mengatakan:
“renungkanlah, dalam hadits ini tabarruj digandengkan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi Wasallam dengan dosa-dosa yang besar” (Izh-harul Haq
wa Shawab fii Hukmil Hijab, 1/315).
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا
عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لا يَأْمُرُ
بِالْفَحْشَاءِ
“Dan jika mereka melakukan fahisyah (perbuatan
nista), mereka mengatakan: kami mendapati dahulu kakek-moyang kami
melakukannya, dan Allah pun memerintahkannya. Maka katakanlah: sesungguhnya
Allah tidak pernah memerintahkan perbuatan nista” (QS. Al A’raf: 28).
Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan:
“Allah Ta’ala menamai perbuatan membuka aurat sebagai fahisyah
(perbuatan nista). [kemudian beliau menukil ayat di atas]. Ayat ini
menceritakan tentang orang Jahiliyah dahulu thawaf dalam keadaan membuka aurat
mereka dan mereka menganggap itu bagian dari agama” (Al Mulakhas Al
Fiqhi, 1/108).
2.
Tidak berfungsi sebagai perhiasan
Busana wanita Muslimah hendaknya tidak menjadi
perhiasan, yang memperindah wanita yang memakainya di depan para lelaki,
sehingga menimbulkan fitnah bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
“Janganlah mereka menampakan perhiasan
mereka.” (QS. An-Nur:31).
Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta’
ditanya: “Bolehkah wanita menggunakan busana yang bercorak-corak?”. Mereka
menjawab:
لا يجوز للمرأة أن تخرج بثوب مزخرف يلفت
الأنظار؛ لأن ذلك مما يغري بها الرجال، ويفتنهم عن دينهم، وقد يعرضها لانتهاك
حرمتها
“Tidak diperbolehkan wanita menggunakan busana
yang bercorak yang bisa membuat mata lelaki tertarik. Karena busana demikian
diantara yang bisa membuat lelaki tergoda dan terfitnah. Dan terkadang membuat
seorang wanita dilanggar kehormatannya”.
Al Alusi dalam Ruhul Ma’ani mengatakan:
ثم اعلم أن عندي مما يلحق بالزينة المنهي عن
إبدائها: ما يلبسه أكثر مترفات النساء في زماننا فوق ثيابهن ويتسترن به إذا خرجن
من بيوتهن، وهو غطاء منسوج من حرير ذي عدة ألوان وفيه من النقوش الذهبية أو الفضية
ما يبهر العيون، وأرى أن تمكين أزواجهن ونحوهم لهن من الخروج بذلك ومشيهن به بين
الأجانب من قلة الغيرة، وقد عمت البلوى بذلك
“Kemudian ketahuilah, saya ingin
memperingatkan diantara perhiasan yang terlarang untuk ditampakkan wanita adalah:
apa yang banyak digunakan wanita-wanita glamor di zaman ini, yang digunakan di
atas busananya, yang mereka kenakan ketika keluar rumah. Yaitu kerudung tenunan
dari sutra yang berwarna-warni yang terdapa ukiran-ukiran warna emas dan perak
yang sangat mempesona mata orang-orang. Dan saya memandang, seorang kepala
keluarga yang membiarkan istri-istri mereka dan wanita anggota keluarganya
keluar rumah dengan busana demikian dan berjalan bersama lelaki ajnabi (non
mahram) itu adalah bentuk qillatul ghirah (minimnya rasa cemburu). Dan perkara
seperti ini sudah terlanjur umum terjadi masyarakat”.
3.
Kainnya tebal tidak tipis dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh
Busana Muslimah hendaknya tebal dan tidak
tipis serta tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Usamah bin Zaid radhiyallahu
‘anhu pernah berkata:
كساني رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قبطية
كثيفة كانت مما أهدى له دِحْيَةُ الكلبي فكسوتها امرأتي، فقال رسول الله – صلى
الله عليه وسلم – : مالك لا تلبس القبطية؟ فقلت: يا رسول الله! كسوتها امرأتي،
فقال: مرها أن تجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظامها
“Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut
dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju
itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menanyakanku:
‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab: ‘Baju tersebut
kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata: ‘Suruh ia memakai
baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan
bentuk tulangnya’” (HR. Dhiya Al Maqdisi dalam Al Mukhtar 1/441,
dihasankan oleh Al Albani)
Dalam hadits ini Rasulullah memperingatkan
Usamah agar jangan sampai bentuk tulang istrinya Usamah terlihat ketika memakai
pakaian. Maka menunjukkan tidak boleh menampakkan bentuk lekuk-lekuk tubuh
wanita. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
صنفان من أهل النار لم أرهما: قوم معهم سياط
كأذناب البقر يضربون بها الناس، ونساء كاسيات عاريات، مائلات مميلات، رؤوسهن
كأسنمة البخت المائلة، لا يدخلن الجنة، ولا يجدن ريحها، وإن ريحها ليوجد من مسيرة
كذا وكذا
“Ada dua golongan dari umatku yang belum
pernah aku lihat: (1) suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang
digunakan untuk memukul orang-orang dan (2) para wanita yang berpakaian tapi
telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring
(seperti benjolan). Mereka itu tidak masuk surga dan tidak akan mencium
wanginya, walaupun wanginya surga tercium sejauh jarak perjalanan sekian dan
sekian” (HR. Muslim dalam bab al libas waz zinah no. 2128).
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin
mengatakan:
كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ “قَدْ فُسِّرَ
قَوْلُهُ: بِأَنَّهُنَّ يَلْبَسْنَ أَلْبسَةَ قَصِيْرَةً، لَا تَسْتَرِ مَا
يُجِبُّ سترَهُ مِنَ الْعَوْرَةِ، وَفَسَّرَ: بِأَنَّهُنَّ يَلْبَسْنَ أَلْبسَةَ
خَفِيْفَةً لَا تَمْنَعُ مِنْ رُؤْيَةِ مَا وَرَاءَهَا مِنْ بَشْرَةِ الْمَرْأَةِ،
وَفَسَّرَت : بِأَنْ يَلْبَسْنَ مَلَابِسَ ضيقة، فَهِيَ سَاتِرَةٌ عَنِ
الرُّؤْيَةِ، لَكِنَّهَا مبدية لمفاتن
“Para ulama menjelaskan [wanita yang
berpakaian tapi telanjang] adalah wanita yang menggunakan pakaian yang pendek
yang tidak menutupi aurat. Sebagian ulama menafsirkan, mereka yang menggunakan
pakaian yang tipis yang tidak menghalangi terlihatnya apa yang ada di baliknya
yaitu kulit wanita. Sebagian ulama menafsirkan, mereka yang menggunakan pakaian
yang ketat, ia menutupi aurat namun memperlihatkan lekuk tubuh wanita yang
memfitnah.” (Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, 2/825).
4.
Tidak diberi pewangi atau parfum
Wanita tidak boleh memakai parfum atau
wewangian yang bisa tercium oleh para lelaki. Dari Abu Musa Al Asy’ari
radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ
عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Perempuan mana saja yang mengenakan wewangian
lalu melewati sekumpulan laki-laki, sehingga mereka mencium wangi harumnya maka
ia adalah seorang pezina.” (HR. Abu Daud no.4173, Tirmidzi no. 2786.
Dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.323).
5.
Lebar dan longgar
Dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ’anha,
ia mengatakan:
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نخرج
ذوات الخدور يوم العيد قيل فالحيض قال ليشهدن الخير ودعوة المسلمين قال فقالت
امرأة يا رسول الله إن لم يكن لإحداهن ثوب كيف تصنع قال تلبسها صاحبتها طائفة من
ثوبها
“Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam memerintahkan wanita yang dipingit (juga wanita yang haid)
pada hari Ied, untuk menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin. Kemudian
seorang wanita berkata: ‘Wahai Rasulullah jika diantara kami ada yang tidak
memiliki pakaian, lalu bagaimana?’. Rasulullah bersabda: ‘Hendaknya temannya
memakaikan sebagian pakaiannya‘” (HR. Abu Daud, no.1136. Dishahihkan Al
Albani di Shahih Abi Daud).
Faidah hadits ini, jilbab wanita muslimah itu
semestinya lebar. Sebagaimana kata Syaikh Ibnu Jibriin rahimahullah:
فهو يدل على أن الجلباب رداء واسع قد يستر
المرأتين جميعًا
“Hadits ini menunjukkan bahwa jilbab itu
berupa rida’ yang lebar, saking lebarnya terkadang bisa cukup untuk menutupi
dua orang wanita sekaligus”. (Sumber: http://ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=6006&parent=786)
Adab Khusus Bagi Laki-Laki
1.
Menutup aurat
Dan batasan aurat lelaki adalah dari pusar
hingga lutut. Berdasarkan hadits:
أسفلِ السُّرَّةِ وفوقَ الركبتينِ من العورةِ
“Yang dibawah pusar dan di atas kedua lutut
adalah aurat” (HR. Al Baihaqi, 3362, Ad Daruquthni 1/231, dan yang
lainnya).
Dan hadits semisal ini banyak sekali, namun semuanya tidak lepas dari
kelemahan. Namun demikian isinya diamalkan oleh para ulama. Bahkan Al Albani
mengatakan:
وهي وإن كانت أسانيدها كلها لا تخلو من ضعف ….
فإن بعضها يقوي بعضاً ، لأنه ليس فيهم متهم ، بل عللها تدور بين الاضطراب والجهالة
والضعف المحتمل ، فمثلها مما يطمئن القلب لصحة الحديث المروي بها
“Hadits-hadits tentang batasan aurat ini walaupun
semuanya tidak lepas dari kelemahan, namun sebagiannya menguatkan sebagian yang
lain. Karena di dalamnya tidak ada perawi yang muttaham (tertuduh pendusta).
Bahkan cacat yang ada hanya seputar idhthirab, jahalah dan kelemahan yang
muhtamal. Maka hadits-hadits yang semisal ini termasuk hadits yang menenangkan
hati untuk dikatakan hadits yang shahih” (Irwaul Ghalil, 1/297).
Maka lelaki tidak boleh menggunakan celana
pendek yang memperlihatkan bagian pahanya.
2.
Tidak memakai emas
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu,
bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أُحلَّ الذهبُ والحريرُ لإناثِ أُمتي، وحُرِّم
على ذكورِها
“Dihalalkan emas dan sutra bagi wanita dari
kalangan umatku, dan diharamkan bagi kaum laki-lakinya” (HR. An Nasa’i
no. 5163, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).
Maka tidak diperbolehkan lelaki menggunakan
emas dalam bentuk apapun, baik cincin, kancing baju, pakaian berbahan emas,
bagde, atau semisalnya.
Baca Juga: Melamar Wanita Yang Tidak Berjilbab Atau Ber-Tabarruj
3.
Tidak memakai sutra
Laki-laki Muslim dilarang menggunakan pakaian
dari sutra. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu’anhu, bahwa
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن لبِس الحريرَ في الدُّنيا لم يلبَسْه في
الآخرةِ وإنْ دخَل الجنَّةَ لبِسه أهلُ الجنَّةِ ولم يلبَسْه هو
“Barangsiapa yang memakai pakaian dari sutra
di dunia, dia tidak akan memakainya di akhirat. Walaupun ia masuk surga dan
penduduk surga yang lain memakainya, namun ia tidak memakainya” (HR.
Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, no. 5437, dishahihkan oleh Al Aini dalam Nukhabul
Afkar 13/277).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan
kelonggaran bagi laki-laki untuk menggunakan sutra dalam pengobatan. Dari Anas
bin Malik radhiyallahu’anhu beliau berkata:
رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan
kelonggaran untuk Zubair dan Abdurrahman untuk memakai sutra karena penyakit
gatal yang mereka derita” (HR. Bukhari no. 5839, Muslim no. 2076).
Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan:
قَالَ الطَّبَرِيُّ : فِيهِ دَلَالَة عَلَى
أَنَّ النَّهْي عَنْ لُبْس الْحَرِير لَا يَدْخُل فِيهِ مَنْ كَانَتْ بِهِ عِلَّة
يُخَفِّفهَا لُبْس الْحَرِير
“Ath Thabari menjelaskan: dalam hadits ini terdapat dalil bahwa larangan
menggunakan sutra tidak termasuk di dalamnya orang yang memiliki penyakit yang
bisa diringankan dengam memakai sutra” (Fathul Baari, 16/400).
4.
Hendaknya tidak isbal
Isbal artinya menggunakan pakaian yang
panjangnya melebihi mata kaki, baik itu celana, sarung, jubah dan semisalnya.
Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار
“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki
tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari no.5787).
Beliau juga bersabda:
لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطراً
“Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan
memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong” (HR. Bukhari
no.5788)
Jumhur ulama berpendapat bahwa jika isbal
bukan karena sombong, maka tidak haram. Namun semua ulama sepakat, bahwa
menjauhi isbal itu lebih baik dan lebih bertaqwa. Sebagaimana riwayat dari
Ubaid bin Khalid Al Maharibi radhiallahu’anhu, ia berkata:
بَيْنا أنا أمشي بالمدينةِ إذا إنسانٌ خلفي
يقولُ : ارفعْ إزارَكَ، فإنَّهُ أتَقى ، فإذا هو رسولُ اللهِ ،فقلْتُ: يا رسولَ
اللهِ إِنَّما هيَ بُرْدَةٌ مَلْحاءُ، قال: : أَما لكَ فِيَّ أُسْوَةٌ . فنظرْتُ
فإذا إِزارُهُ إلى نصفِ ساقيْهِ
“Ketika aku berjalan di Madinah, tiba-tiba ada
seseorang di belakangku yang mengatakan: ‘Angkat sarungmu! Karena itu lebih
bertaqwa’. Ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Aku pun
berkata: ‘Wahai Rasulullah, ini hanyalah kain burdah malhaa’. Rasulullah
menjawab: ‘Bukankah aku adalah teladan bagimu?’. Lalu aku melihat sarung
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ternyata sarung beliau
hanya sampai pertengahan betis” (HR. At Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyah
no. 121, dishahihkan Al Albani dalam Mukhtashar Asy Syamail, no. 97).
Dan pendapatt yang rajih, isbal itu hukumnya
haram meskipun tanpa bermaksud sombong. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam mengingkari para sahabat yang isbal walaupun alasannya bukan untuk
sombong. Dari Asy Syarid ia berkata,
أَبْصَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَجُرُّ إِزَارَهُ ، فَأَسْرَعَ إِلَيْهِ أَوْ :
هَرْوَلَ ، فَقَالَ : ” ارْفَعْ إِزَارَكَ ، وَاتَّقِ اللَّهَ ” ، قَالَ : إِنِّي
أَحْنَفُ ، تَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ ، فَقَالَ : ” ارْفَعْ إِزَارَكَ ، فَإِنَّ
كُلَّ خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ ” ، فَمَا رُئِيَ ذَلِكَ الرَّجُلُ
بَعْدُ إِلَّا إِزَارُهُ يُصِيبُ أَنْصَافَ سَاقَيْهِ ، أَوْ : إِلَى أَنْصَافِ
سَاقَيْهِ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam melihat seorang laki-laki yang pakaiannya terseret sampai ke
tanah, kemudian Rasulullah bersegera (atau berlari) mengejarnya. Kemudian
beliau bersabda:
“angkat pakaianmu, dan bertaqwalah kepada
Allah“. Lelaki itu berkata: “kaki saya bengkok, lutut saya tidak stabil
ketika berjalan”. Nabi bersabda: “angkat pakaianmu, sesungguhnya semua
ciptaan Allah Azza Wa Jalla itu baik”.
Sejak itu tidaklah lelaki tersebut terlihat
kecuali pasti kainnya di atas pertengahan betis, atau di pertengahan betis”
(HR. Ahmad mencatat sebuah riwayat dalam Musnad-nya [4 / 390],
dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 3/427).
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/47057-adab-adab-berpakaian-bagi-muslim-dan-muslimah.html
Komentar
Posting Komentar