Apa hukum berakhlak kepada Allah?
Akhlak yang baik kepada Allah adalah ridha terhadap hukum-Nya baik secara syar'i maupun secara takdir. Ia menerima hal itu dengan lapang dada dan tidak mengeluh. Jika Allah menakdirkan sesuatu kepada seorang muslim yang tidak disukai oleh muslim itu, dia merasa ridha, menerima, dan bersabar.
https://www.youtube.com/watch?v=PYz4gwgt6bY&t=34s
https://drive.google.com/file/d/1B20AeJm9T49sz-B2q4Q9LzkQ8HaV-OUT/view
Memperbaiki akhlak, salah satu misi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Di antara salah satu misi dakwah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ
الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari
dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani
dalam Shahih Adaabul Mufrad.)
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengatakan “menyempurnakan akhlak”; dan bukan
mengajarkan akhlak dari nol setelah sebelumnya tidak tahu sama sekali. Hal ini
karena dulu masyarakat musyrik jahiliyyah telah memiliki sebagian bentuk akhlak
yang luhur sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di
antaranya adalah menepati janji; memuliakan tamu; dan suka memberi makan orang
yang membutuhkan. Sehingga akhlak-akhlak yang baik itu dipertahankan, sedangkan
akhlak mereka yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, itulah yang menjadi
sasaran perbaikan.
Memprioritaskan
akhlak kepada Allah Ta’ala
Kalau kita berbicara dan menyebutkan tentang
akhlak, yang terlintas dalam benak dan bayangan kita adalah bagaimanakah kita
bersikap baik kepada sesama manusia, misalnya kepada orang tua, kepada guru,
kepada tamu, atau yang lainnya. Jarang atau mungkin tidak pernah terlintas
dalam benak kita adanya akhlak yang lebih agung daripada itu semua, yaitu
akhlak kita kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hal ini
dalam firman-Nya,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا
إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ
أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23)
Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan
kita untuk menjaga akhlak kepada kedua orang tua. Kedua orang tua kita adalah
manusia yang paling berhak untuk mendapatkan sikap dan perlakuan yang baik dari
kita.
Namun, sebelum Allah Ta’ala menyebutkan
perintah berbuat baik alias berakhlak kepada orang tua, Allah Ta’ala terlebih
dahulu menyebutkan hak-Nya, yaitu perintah untuk beribadah hanya kepada Allah
Ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Hal ini
mengisyaratkan, akhlak kepada Allah Ta’ala, yaitu tauhid, adalah hak yang lebih
agung dan lebih harus diperhatikan sebelum hak kedua orang tua.
Demikian juga dalam ayat yang lain, Allah
Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ
شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ
بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا
يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan
janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada
dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan
hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’ [4]: 36)
Dalam ayat di atas, sebelum Allah Ta’ala
memerintahkan manusia untuk berakhlak kepada sesama manusia, yaitu sembilan
golongan yang Allah sebutkan (orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga
yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan budak), Allah
Ta’ala perintahkan untuk berakhlak terlebih dahulu kepada Allah Ta’ala, yaitu
mentauhidkan-Nya dalam ibadah.
Hal ini menunjukkan, tanpa akhlak kepada Allah
Ta’ala, semua itu hanyalah sia-sia belaka dan tidak ada nilainya di sisi Allah
Ta’ala
Sebaik
apa pun akhlak orang kafir kepada sesama manusia, mereka adalah sejelek-jelek
makhluk di sisi Allah Ta’ala
Dua ayat di atas menunjukkan bahwa akhlak
kepada Allah Ta’ala adalah yang menjadi pokok, sedangkan akhlak kepada sesama
manusia atau sesama makhluk secara umum itu sekedar mengikuti setelah seseorang
memiliki akhlak kepada Allah Ta’ala.
Sehingga meskipun manusia itu memiliki akhlak
yang baik kepada sesama manusia, misalnya jujur, tidak pernah mengganggu dan
menyakiti orang lain, tidak pernah korupsi, amanah jika diberi jabatan, dan
lain-lain, jika mereka tidak beriman kepada Allah Ta’ala, akhlak-akhlak yang
luhur kepada sesama manusia itu tidak ada nilainya sama sekali.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebut
orang-orang kafir sebagai seburuk-buruk makhluk, tanpa melihat sebagus dan
seluhur apa pun akhlak dan perbuatan mereka terhadap sesama manusia. Allah
Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ
الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ
هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni
ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka jahannam,
mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS.
Al-Bayyinah [98]: 6)
Bukti lainnya bahwa akhlak kepada sesama
makhluk itu tidak ada nilainya selama manusia tidak berakhlak kepada Allah
Ta’ala adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap
memerangi kaum musyrikin, sampai mereka mau berakhlak kepada Allah Ta’ala
dengan mentauhidkan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى
يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia
sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah
melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari
no. 25 dan Muslim no. 138)
Sebagian akhlak mulia kepada sesama manusia
yang kaum musyrikin miliki itu tidak ada nilainya, sampai mereka mau beriman
kepada Allah Ta’ala dan mentauhidkan Allah Ta’ala dalam seluruh aktivitas
peribadatan mereka.
Syubhat
orang liberal: Tidak perlu memiliki agama formal, yang penting memiliki akhlak
sosial
Sebagian orang yang terkena penyakit
liberalisme mengatakan, “Manusia tidak perlu mengikatkan diri dalam agama
formal tertentu. Yang penting, mereka punya akhlak sosial yang luhur: jujur,
tidak berkata dusta, saling menyayangi, tidak membunuh, tidak mencuri harta
orang lain, suka membantu manusia yang membutuhkan pertolongan, dan seterusnya.
Tidak mungkin Allah tega memasukkan hamba-Nya ke dalam neraka jika hamba-Nya
itu telah memiliki akhlak-akhlak yang luhur tersebut.”
Inilah syubhat yang ditebarkan oleh
orang-orang liberal. Mereka anggap itu adalah pemikiran modern, padahal
pemikiran itu adalah pemikiran kuno, pemikiran orang musyrikin sejak zaman
dahulu dan telah Allah Ta’ala abadikan dalam Al-Qur’an.
Allah Ta’ala mengatakan,
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي
الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman
orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram itu kamu samakan
dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta bejihad
di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]: 19)
Dulu, orang-orang musyrikin membanggakan
amal-amal sosialnya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Mereka membanggakan “akhlak” mereka berupa suka memberi minum
orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan juga rajin mengurusi Masjidil
Haram. Mereka membanggakan amal itu, sehingga tidak lagi merasa butuh kepada
amal yang lain, yaitu keimanan kepada Allah Ta’ala dan jihad di jalan Allah
Ta’ala.
Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala langsung
membantah argumentasi mereka. Bahwa di sisi Allah, tidaklah sama antara orang
yang beriman kepada Allah Ta’ala dengan orang yang hanya mengandalkan amal dan
akhlak sosial semata. Jangan disamakan antara amal iman kepada Allah Ta’ala
dengan amal memberi minum jamaah haji yang butuh minum.
Dengan kata lain, akhlak orang-orang musyrikin
kepada sesama manusia itu tidak ada nilainya, sampai mereka memiliki akhlak
kepada Allah Ta’ala terlebih dahulu.
Bukan
berarti akhlak kepada sesama manusia itu tidak ada gunanya
Pembahasan di atas bukanlah berarti bahwa
akhlak kepada sesama manusia itu tidak penting. Bukan maksudnya demikian.
Bahkan, berkahlak kepada manusia adalah konsekuensi iman kepada Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, dalam banyak hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengaitkan beberapa perkara akhlak dengan keimanan kepada Allah
Ta’ala dan hari akhir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ
الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya.
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan
tamunya.” (HR. Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 47. Lafadz hadits ini
miliak Bukhari.)
Hadits di atas menunjukkan bahwa di antara
konsekuensi kesempuranaan iman kepada Allah Ta’ala adalah memiliki akhlak yang
baik kepada sesama manusia.
Oleh karena itu, dalam hadits yang lain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ
خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai
shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284.)
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/46861-memprioritaskan-akhlak-kepada-allah.html
Komentar
Posting Komentar